Bagaimana Saba lima sahabat dapat menjual buah nangka Wak Ondok dengan harga mahal? Lebih mahal daripada harga ijonnya? Bahkan lebih mahal daripada harga pasaran?
Mulanya nangka itu dibungkus dengan melongsong daun kelapa. Tentulah Wak Ondok yang menganyam daun kelapa itu. Diselongsongnya ketika nangka ini masih muda. Sekarang sudah matang. Untuk tidak dimakan tupai. Tidak juga dimakan luwak. Tidak pula ada bubuknya. Nangka itu utuh dan bagus bentuknya. Menyenangkan sekali.
"Harus laku lima ratus!" begitu tekad si Saba.
"Salahmu sendiri!" kecam si Jupri. "Kenapa kau janjikan Wak Ondok beras, ikan asin, dan segala macam. Coba kalau cuma daun nipah dan tembakau, laku tiga ratus juga sudah cukup mewah!"
"Yang aku pernah lihat, sebagus-bagus nangka, paling tinggi harganya cuma dua ratus lima puluh," si Danu memberikan taksirannya.
"Sekarang tidak ada musim buah," bantah Saba keras. "Nangka pasti maju. Dengan seribu satu akal, nangka ini mesti laku lima ratus."
Kawan-kawannya terdiam.
Si Ripin mulai memanjat. Diikatnya tangkai nangka itu dengan tali timba, yang mereka pinjam dari rumah Bang Umar. Lalu si Ripin menutuhnya dengan parang panjang.
"Sekarang tidak ada musim buah," bantah Saba keras. "Nangka pasti maju. Dengan seribu satu akal, nangka ini mesti laku lima ratus."
Kawan-kawannya terdiam.
Si Ripin mulai memanjat. Diikatnya tangkai nangka itu dengan tali timba, yang mereka pinjam dari rumah Bang Umar. Lalu si Ripin menutuhnya dengan parang panjang.
