Tampilkan postingan dengan label cerita Buku SERIBU AKAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita Buku SERIBU AKAL. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Juni 2016

4) BERDAGANG

Bagaimana Saba lima sahabat dapat menjual buah nangka Wak Ondok dengan harga mahal? Lebih mahal daripada harga ijonnya? Bahkan lebih mahal daripada harga pasaran?

Mulanya nangka itu dibungkus dengan melongsong daun kelapa. Tentulah Wak Ondok yang menganyam daun kelapa itu. Diselongsongnya ketika nangka ini masih muda. Sekarang sudah matang. Untuk tidak dimakan tupai. Tidak juga dimakan luwak. Tidak pula ada bubuknya. Nangka itu utuh dan bagus bentuknya. Menyenangkan sekali.

"Harus laku lima ratus!" begitu tekad si Saba.

"Salahmu sendiri!" kecam si Jupri. "Kenapa kau janjikan Wak Ondok beras, ikan asin, dan segala macam. Coba kalau cuma daun nipah dan tembakau, laku tiga ratus juga sudah cukup mewah!"

"Yang aku pernah lihat, sebagus-bagus nangka, paling tinggi harganya cuma dua ratus lima puluh," si Danu memberikan taksirannya.

"Sekarang tidak ada musim buah," bantah Saba keras. "Nangka pasti maju. Dengan seribu satu akal, nangka ini mesti laku lima ratus."

Kawan-kawannya terdiam.

Si Ripin mulai memanjat. Diikatnya tangkai nangka itu dengan tali timba, yang mereka pinjam dari rumah Bang Umar. Lalu si Ripin menutuhnya dengan parang panjang.

Rabu, 02 Oktober 2013

3) PINJAM TANGAN

Wak Ondok sedang menganyam kukusan, ketika Saba lima sahabat mendatanginya. Pikiran Wak Ondok tidak terpusat lagi jadinya. Ia mengaso sejenak. Wak Ondok bermaksud menggulung rokok, tetapi kehabisan daun nipahnya.

"Daun rokok habis... tembakau juga habis...." keluh Wak Ondok seraya menjulurkan kakinya yang barangkali terasa pegal.

"Beli saja, Wak!" usul si Jupri sekenanya.

"Itulah! Maunya juga begitu, tetapi... uang Wak juga habis!"

Wak Ondok menggeliat panjang. Enak sekali tampaknya. Dalam letihnya terasa seakan-akan ia masih suka bersenda gurau.

"Kalau tak punya uang, mudah Wak!" sela si Lodan sambil memutar-mutar telur di tangannya.

Wak Ondok menyangka ia akan dihadiahi telur, tetapi si Lodan bicara lagi, "Wak beli saja duit dahulu. Barulah duit yang Wak beli itu Wak belanjakan rokok. Kan mudah Wak?" katanya.

"Dasar anak brandal! Orang tua dipermainkan!" terdengar si Danu berlagak jadi ayah yang memarahi anaknya.

Kamis, 09 Agustus 2012

2) SESAJEN

Kebupatian menjadi kabupaten. Pengantian menjadi penganten. Peranian menjadi panen. Saji-sajian menjadi sesajen.

Di seluruh kabupaten sekarang ini banyak orang jadi penganten! Hal ini disebabkan karena padi-padi sudah rampung naik ke lumbung. Panen sudah usai.

Hari berkah ini biasanya ditutup dengan berbagai macam kenduri. Kenduri umum. Kenduri tanda bersyukur. Ada kalanya berkelompok. Ada kalanya pula jadi satu seluruh kampung. Maka ramailah suasana.

Lantas banyak pula yang mengadakan pesta-pesta pribadi. Biasanya menyangkut kepentingan keluarga. Sunatan atau kawinan, aatau memperbaiki, memperbesar, bahkan membangun rumah baru.

Di kampung si Saba saja, tujuh orang berturut-turut mengadakan pesta. Empat sunatan, dua kawinan, dan satu kaulan karena sembuh dari sakit yang berat.

Karenanya, di mana-mana banyak sesajen.

Sabtu, 21 April 2012

1) BATERAI BEKAS

Orang masih ribut-ribut cerita tentang planet Mars. Roket Viking yang mendarat dan alat-alatnya yang macet. Maka kembalilah cerita tentang pendaratan manusia pertama di bulan dahulu, ramai diulang lagi.

Jupri dan Lodan berdebat seru.

"Mesti ada orang di Mars!" teriak Lodan
"Tidak mungkin! Lihat gambarnya, Mars sama saja seperti bulan, kering kerontang," bantah Jupri
"Ya, tetapi mendarat di bulan tidak ada kesuilitan. begitu dipilih, pas, dapat mendarat. Mendarat di Mars, sampai ditunda berapa kali? Nah sekarang hayo kita bayangkan Mars itu seperti bumi. Viking mendarat bukannya di Jakarta, tetapi di tengah gurun Sahara. Tentu saja kering kerontang. Lalu disangka Mars tidak ada penghuninya. Coba Viking mendarat di tanah seperti kampung kita ini, pasti ada..."
"....ada si Danu dan Ripin!" potong Saba

Yang disebut namanya meledak tertawa.

SERIBU AKAL

      Judul di atas adalah salah satu judul buku cerita favoritku sejak kecil. Buku ini bukan buku yang terkenal, aku pun tahu setelah ayahku membawa buku-buku yang terbengkalai tak terurus di perpustakaan sekolah beliau mengajar, karena beliau tahu aku doyan sekali membaca, bahkan makan pun sambil membaca.

    Buku ini bukan buku komersil, karena ada label di atasnya yang menegaskan "Milik Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Tidak diperdagangkan, INPRES Nomor 7 Tahun 1983". Penulisnya tertera CM. Nas. Hanya itu saja yang kutahu seputar penulis karena tidak ada biografi yang disertakan, bahkan buku ini pun sudah tak bersampul. Berikut ini adalah identitas jelas mengenai buku tersebut :

Judul       : Seribu Akal
Penulis    : CM. Nas
Penerbit  : Kurnia Esa Jakarta
Cetakan  : Pertama = 1981, Kedua = September 1982, Ketiga = 1984
Tebal      :  76 halaman